Saturday, 25 February 2012

Dua Puisi Tentang Kenangan dan Hujan


I.

Semenjak jatuh cinta kepada matamu,
hujan yang selama ini dingin dan kaku
sebenarnya selalu berdoa agar bisa meleleh
menjadi air matamu.

Karena mendengar doa hujan yang tulus itu,
aku namakan saja pagi yang menggigil ini,
bukan dengan nama hari ataupun tanggal,
tapi dengan sebuah kenangan yang mampu
mencairkan dinginnya hujan menjadi
hangat tangismu.

Dengan harapan, setelah menetes dari sudut matamu,
dia mampu menjadi sungai yang mengalir di lembah merah jambu pipimu,
membasahi dataran hijau bibirmu, sambil mengikis lumpur
yang selama ini terendap
di hatimu.

II.

Kopi yang kuminum sore ini sebenarnya adalah kenangan
yang mencair dan menetes ke dalam cangkir.
Pahit dan hitam memang, tapi tetap kutenggak habis hingga tinggal ampas.
Sebelum akhirnya menguap dan menghilang tertiup angin
dalam kepulan asap rokok yang kuhembuskan pelan-pelan.

Karena begitulah kenangan,
Karena begitulah kehidupan,
Sayang.

- Mirza Adrian NP

Monday, 30 May 2011

Insinyur

Mirza Adrian NP
Pada awalnya Tuhan menciptakan dunia dalam kegelapan.
Lalu Ia ciptakan Insinyur dan teranglah dunia.

Kepadanya kami bergantung,
Dan kepadanya alam tunduk.
Karena dialah yang mampu membuat dan menghancurkan,
Karena dialah yang merancang dan merekayasa.

Makanan yang kami telan hari ini,
dan minuman yang menghilangkan dahaga kami
adalah hasil rekayasanya.

Pakaian yang selalu menempel di badan kami,
dan rumah yang selalu melindungi kami
adalah ciptaannya.

Tak lupa kami panjatkan puji dan syukur atas semua teknologi
yang telah ia wujudkan untuk memudahkan hidup kami.
Mulai dari mobil, telepon genggam, hingga komputer
yang telah menjadi vital bagi hidup kami.

Maka kami lantunkan dengan hikmat mazmur
Atas berkah yang ia berikan pada kami hari ini.
Karena kepadanya kami bergantung
Dan kepadanya alam tunduk.

Sunday, 10 October 2010

Mimpi

Orang-orang kerap berkata padaku untuk lekas bermimpi. Mereka bilang, di dalam mimpi aku bisa menjadi apa saja yang aku mau.

"Engkau bisa bermimpi untuk membangun sebuah negeri yang damai dan asri; atau membuat sebuah obat yang membuat orang-orang senantiasa sehat; atau menciptakan benda yang sangat berguna bagi umat manusia." Kata mereka menggurui.

"Sabar," ujarku sambil dikelilingi oleh gambar dan bunyi-bunyi, "Aku sedang merangkai mimpi dari sekotak televisi. Saat ini aku sedang menyusun iklan-iklan ini menjadi mimpiku sendiri. Akan kuberitahukan padamu jika sudah selesai."