Thursday, 29 September 2016

Biner

Di dalam matematika, terdapat sebuah sistem bilangan yang hanya menggunakan angka 0 dan 1. Sistem ini adalah sistem bilangan basis 2 atau lazim dikenal dengan sistem bilangan biner. Dalam bidang informatika, sistem ini digunakan oleh hampir seluruh komputer yang ada di dunia saat ini. Dalam pemrograman, angka 1 dan 0 merepresentasikan pilihan YA atau TIDAK yang memungkinkan sistem untuk menjalankan program. Proses ini disebut logika Boolean, dari penemunya George Boole.

Menariknya, entah disadari atau tidak, sistem biner ala Boole ini merasuki psike massa yang seringkali membuat opsi dari suatu kondisi menjadi biner. Hampir di setiap kejadian, seakan-akan hanya terdapat dua pilihan, antara YA/TIDAK, SUDAH/BELUM, SUKSES/GAGAL, PRO/KONTRA, MENDUKUNG/MENOLAK, dll. Tidak ada pilihan lain selain dua pilihan tersebut -- jika ada pun dianggap menyimpang. Misal, pada Pemilu 2014 lalu, jawaban atas pertanyaan 'Pilih Siapa?' hanya bisa dijawab dengan Jokowi/Prabowo. Jawaban lain seperti tidak memilih atau mendukung kebijakan salah satu calon namun mengkritisi kebijakan lain calon yang sama dianggap jawaban yang aneh.

Dengan melakukan pembineran tersebut, kita telah menafikan kualitas dialektis dunia dan melakukan simplifikasi atas kemungkinan yang bisa dipilih. Padahal, kemungkinan yang dapat kita capai bisa lebih dari sepasang kata yang berlawanan. Namun jika kita melihat melalui simplifikasi biner, kita akan gagal untuk melihat kemungkinan di luar dua opsi yang ditawarkan dan membuat seakan-akan pilihan lain tidak ada. Pembineran realita pada akhirnya akan memiskinkan pengalaman kita akan dunia

Dengan memandang dunia dengan segala kompleksitasnya, kita bisa mendapatkan lebih banyak pembelajaran dari fenomena di sekitar kita. Dengan tidak membatasi pilihan kita menjadi dua, kita bisa membuka kemungkinan lain yang merupakan sintesa dari dua pilihan. Karena realita tidak sesimpel YA atau TIDAK. Toh, refraksi cahaya tidak hanya menghasilkan warna hitam atau putih tapi gradasi warna pelangi. 

Thursday, 12 November 2015

Polisi Tidur

Mirza Adrian NP
18 September 2015

Bagi pengendara motor, untuk menghindari kemacetan di jalan-jalan utama Ibukota, salah satu alternatif yang bisa diambil adalah menggunakan jalan-jalan kecil kota Jakarta yang saling terhubung hingga penggunaan jalan utama tidak terhindarkan. Apabila opsi ini digunakan, niscaya akan menemukan banyak gundukan di jalan yang memaksa pengendara tersebut untuk mengurangi kecepatan kendaraan. Gundukan-gundukan tersebut dinamakan Polisi Tidur.

Dalam ilmu transportasi, gundukan ini biasa disebut Speed Bump dan memang berfungsi untuk memperlambat laju kendaraan (traffic calming) sehingga sering dipasang di area perumahan atau pos keamanan. Tapi entah kenapa nama Polisi Tidur digunakan oleh masyarakat luas untuk gundukan yang melintang di jalan-jalan Jakarta. Mungkin karena kegunaannya adalah  untuk "mengatur" kecepatan kendaraan seperti polisi dan posisinya horizontal atau tertidur. 

Di Indonesia, polisi tidur biasanya dibangun oleh warga atau penghuni untuk menghindari kecelakaan lalu lintas di area perumahan atau jalan depan rumah mereka. Fungsi utamanya, biasanya adalah untuk mengamankan anak-anak pada saat mereka bermain di depan rumah. Karena pembangunannya adalah hasil dari swadaya masyarakat, desain dan bahan dari polisi tidur pun beraneka ragam, bergantung pada pandangan warga terkait kebutuhan akan kemampuan gundukan yang akan mereka bangun untuk menghentikan kendaraan. Jika dirasa tidak terlalu perlu, gundukan ini dibuat cukup landai dan pendek. Tapi, jika dirasa kebutuhan ini sangat besar, tidak jarang gundukan ini dibuat curam dengan tinggi gundukan mencapai 10 cm sehingga semua kendaraan harus berhenti saat melewati polisi tidur. 

Thursday, 27 November 2014

Get Rich or Die Tryin’

Oleh Mirza Adrian NP
27 November 2014

Judul tulisan ini diambil dari nama album perdana 50 Cent yang keluar pada tahun 2003. Sejujurnya saya tidak terlalu suka dengan hip-hop jenis ini karena menurut saya liriknya terlalu monoton dengan terus mengusung kekerasan dan gaya hidup seorang “gangsta” yang bergelimang harta. Namun di tengah kemacetan Jakarta, judul album ini muncul di pikiran saya sebagai sebuah konsekuensi logis dari sistem sosial yang berjalan di negara ini. Seruan Get rich or die tryin’ (menjadi kaya atau mati berusaha) adalah reaksi logis pada individu yang berada didalam masyarakat yang menganut Darwinisme sosial sebagai sistem sosial. Pada masyarakat yang demikian, satu-satunya jalan agar individu bisa berjaya adalah dengan menjadi kaya sementara individu yang miskin akan mati digilas oleh mereka yang kaya.

Dari pengalaman saya, Indonesia adalah negara paling liberal yang pernah saya lihat. Di negara ini, prinsip Laissez-Faire dirangkul sepenuhnya sebagai sistem sosial sehingga setiap orang ditinggalkan untuk berjuang demi hidupnya sendiri. Intervensi pemerintah untuk menjamin standar minimal kesejahteraan sosial hampir tidak ada atau, jika ada, tidak berjalan. Sehingga setiap individu dipaksa untuk menjamin sendiri semua sumber daya yang dia butuhkan untuk keberlangsungan hidup dirinya dan keluarganya. Artinya, setiap orang harus mempersiapkan sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan dasar yang meliputi pangan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan transportasi tanpa bisa mengharapkan bantuan dari pihak manapun. Atau dengan kata lain, dilarang miskin di Jakarta karena setiap orang diwajibkan untuk menjadi kaya. Jika individu tersebut miskin, maka dia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sehingga untuk bertahan hidup dia harus terus berusaha hingga dia menjadi cukup kaya untuk memenuhi semua kebutuhannya atau hingga dia mati – sesuai dengan judul album 50 Cent: Get Rich or Die Tryin’.


Perasaan inilah yang sedang saya alami sekarang. Di tengah keramaian Jakarta yang sudah tidak wajar ini, saya sedang berusaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan Istri saya. Namun, hingga sekarang, terdapat banyak keraguan mengenai pemenuhan kebutuhan saya di masa depan.

Monday, 2 June 2014

A Call to Arms: Jakarta Book Cooperative Project

By Mirza Adrian NP
(5 April 2014)

Cicero once said that if you have a garden and library, you have everything. In that case, I feel that Jakarta is an impoverished city since this city has neither garden nor library, only offices and malls.
***

For those of you who have been in Jakarta, you can easily see that the daily routine of this city revolve around getting our way through the traffic from home to work and back every day. For most people, waking up as early as five o'clock in the morning means preparing themselves to face up to three hours of traffic to get to work then work for nine hours before facing the traffic again for another three hours. During the traffic, most people are alone in their car cursing other people around them, while at the same time being cursed by other people around them. The same thing happens on their way home and after they arrive at home, people are all spent and tired. They go to bed to reset the cycle and the next day the whole thing start all over again. This routine leaves no time for meaningful socialization where people actually share feelings and ideas to other people.

Also, the lacks of public space that exist in Jakarta confine people from meeting with different type of people from another group of society or class. For most people in Jakarta, the only public space available to meet up with other people is the mall which is abundant in this city. However, as a public space, the mall is isolated from the outside world. Within the mall, the middle class can spend their time to socialize undisturbed by the poorer part of the society. This stark division and social confinement leads to a narrow point of view that is laden with bias and prejudice which breeds social distrust within our society. By perpetuating our current way of life we are wasting our social capital and create a very unliveable city.

However, I believe that this can be changed. And I would like to change all that by creating a public library. But I am not planning to build an ordinary library. I am planning to make a communal library in the heart of Jakarta in the form of cooperative so people across our society can be involved with the creation of this library. Thus, this library will be a library that is created from the people, by the people, and for the people of Jakarta. I hope that by making a communal library we can increase the amount of meaningful interaction between people to share feelings and ideas with other people from different background, class, and ethnics. I feel that through the increase interaction we can increase the social capital of our society and make Jakarta a more liveable city.


Friday, 4 January 2013

Letter To My Younger Self 8 Years Ago.

Dear Mirza,

Soon, on July 2004, you will move to London and start a new life. This will be a hard thing for you to cope. So I am writing this letter to you from the future hoping that it will help you in getting through this transitional phase. I hope that you read this carefully and act upon this writing accordingly.

***

My dear Mirza, at some points in your life, people will leave you. At some other points in your life, you will leave people. Either way, during these points in your life, you will feel very lonely. You know, that feeling that you're facing this world and all of its evil and problems on your own without friends to share your worries and stories, help your problems, or laugh at your jokes. You know, lonely.

But don't worry. From my experience, I know that it will pass. And will, eventually, come again. It is a cycle that you will feel now and again. In my (or should I say our) case, the cycle time is about four or five years. So I've grown quite used to it. But still, it strikes me (well, loneliness is not the best feeling in the world).

The frequencies of me facing this problem necessitates me to devise a way to cope with these time of my life (or in psychoanalytic diction, create a form of defence for the Ego to face reality without it experiencing much disturbance, you will learn about this later). Perhaps, if I share it here, it will be much use to you right now.

My advice is simply (well like all good advice, simple to say but not that simple in reality) to forget what you had, cherish what you have, and embrace what you will have.

Now, I know that you will disagree with all of my statement above.

You will disagree with the first point, "forget what you had". I know you will come up with the question "How can you forget those fond memories that you have with those dear friends?" to deny it. Well, my answer is this: whatever you had or experienced in the past, in the end, had past. Wallowing yourself in memories and "what had happened" does not help you to cope with the life you're about to live. And, I'm saying this from experience, you will eventually forget. You will eventually forget about people and people will also forget about you. From experience I know that the thought that people will remember people forever and ever is nothing but an illusion. And I know, if you're reading this at the initial phase of your transition, you will, out of sentimentality, disagree with me strongly. But, later - perhaps when you don't even remember ever reading this - you'll see the truth in my statements.

You will also disagree with my second point, "cherish what you have". Again, I know you will deny it with the question "What is there to cherish? I'm not enjoying anything at the moment!" To you, my answer is this: love every seconds of your life however bad yours is. Because whatever you have right now, be it heaven or hell, is the only thing you have right now. You don't have anything that you don't have right now. All you have is now. So cherish it. From observation I know this to be true, "Happiness comes to people who cherish" and "Happiness will never come to those who don't appreciate what they already have". So cherish, and I guarantee you'll be happy.

Lastly, you will also disagree with my last point, "embrace what you will have". The question that you use to deny my point this time is, "How can I embrace my currently unknown future?" My answer is this: Life will not disappoint you. Provided that one condition is fulfilled. Life will not disappoint you if, and only if, you accept whatever life gives to you. Now I know that from your point of view right now the future looks dark and full of unknowns and uncertainties. It is a very scary view indeed. But soon, and little by little, life will shine onto the darkness and reveal some amazing things, and also some awful things. My advice to you is to accept them all. Take and appreciate the amazing things. With the awful things that life gives you, also take them and learn from them. This, my dear Mirza, is the process of growing up. If you refuse some things, you will lose some of life treasures and, more importantly, lose some of life lessons. From experience, I've learned that accepting everything that life gives is a way to get a fuller life. So just accept everything, and life will not disappoint you.

***

My dear Mirza, this is all the advice I can give to you right now. What you are feeling right now is temporary, like all phases of life are. Just face it as best as you can. I hope, in fact I know, that you'll be alright. But at the same time also not alright. Mais, c'est la vie (I know you don't understand French right now so look it up. This phrase could be one of your life motto later).



Live well Mirza.
                             
Best Regards,
Your Future Self.

                                                                                                                     
*PS: You might want to keep this letter as you will need it again in 8 years – at the end of your college life. When you reach 2013, tell your future self that this letter is still valid and that he doesn't have to worry about a thing. Thanks.

Tuesday, 17 July 2012

Statement of Intent


The unknowns for scientists is like the wilderness for explorers - it is a blessing of discovery, the thrill of adventure. So come, my love, let us go into the wild! We have oceans to sail, mountains to climb, and wilderness to explore. In short, we have the world and beyond to discover! Let us push the boundary of the known world. We shall be the first human to witness the new world. First eyes to see, first ears to hear, the first human to know the new world. For we are its discoverer.
But, my love, I shall warn you, the road won’t be easy. For we will walk paths never trodden before. Without any guidance - not even maps nor stars to show us the way. Without any assurance that our resources is enough to carry us. And at times, we will have to force our heart and nerve and sinew to serve us long after they are gone. But, we shall endure, my Love! We will hold on, with nothing except our Will which says to them: ‘Hold on!’.
Since it is our passion.
It is the reason of our existence.

Saturday, 25 February 2012

Dua Puisi Tentang Kenangan dan Hujan


I.

Semenjak jatuh cinta kepada matamu,
hujan yang selama ini dingin dan kaku
sebenarnya selalu berdoa agar bisa meleleh
menjadi air matamu.

Karena mendengar doa hujan yang tulus itu,
aku namakan saja pagi yang menggigil ini,
bukan dengan nama hari ataupun tanggal,
tapi dengan sebuah kenangan yang mampu
mencairkan dinginnya hujan menjadi
hangat tangismu.

Dengan harapan, setelah menetes dari sudut matamu,
dia mampu menjadi sungai yang mengalir di lembah merah jambu pipimu,
membasahi dataran hijau bibirmu, sambil mengikis lumpur
yang selama ini terendap
di hatimu.

II.

Kopi yang kuminum sore ini sebenarnya adalah kenangan
yang mencair dan menetes ke dalam cangkir.
Pahit dan hitam memang, tapi tetap kutenggak habis hingga tinggal ampas.
Sebelum akhirnya menguap dan menghilang tertiup angin
dalam kepulan asap rokok yang kuhembuskan pelan-pelan.

Karena begitulah kenangan,
Karena begitulah kehidupan,
Sayang.

- Mirza Adrian NP

Monday, 6 June 2011

Cerpen: Balada Terbunuhnya Atmo Karpo

Oleh: Mirza Adrian NP

Malam. Hening akan terdengar ganjil malam ini karena semesta sedang riuh ricuh menyaksikan drama kematian seorang manusia. Daun dan alang-alang berdesakan maju mencari tempat menonton, sementara angin sengaja terbang mengikuti sang Ajal, menunggu saat yang paling dinantikan. Tak ada awan, tak ada bintang. Langit bagaikan tirai hitam yang ditutup sebagai pertanda babak drama telah usai. Segalanya kelam kecuali purnama yang menjadi lampu sorot. Dengan kilaunya yang terang, disorotinya lakon utama malam itu. Sebuah lakon tentang kematian manusia yang diawali dengan pacuan seorang penunggang kuda yang berbasuh darah dan keringat di sekujur tubuhnya.
Di bawah sana, seekor kuda sedang melaju kencang seakan sedang menebah perut bumi dengan kuku-kuku besinya. Di punggung kuda itu, lutut sang penunggang mengepit kuat-kuat, menahan badannya yang sudah terhuyung ke kanan dan kiri. Dengan pedang berlumuran darah dan luka di sekujur tubuh, si penunggang kuda ini melesat kencang dalam malam yang terang. Tergesa-gesa ia karena hidup dan matinya dipertaruhkan pada laju kudanya.
“Bedebah!” Ucapnya saat melihat ke belakang.
Di belakangnya, menderu segenap pasukan kerajaan mengejar penjahat yang diburu. Dengan terampil, mereka terbangkan anak panah dari atas punggung kuda ke arah langit. Mendadak langit menjadi hitam dan sesaat setelahnya hujan besi tajam turun deras. Sang penjahat berusaha menghindar dari hujan panah dan segera mempercepat pacu langkah kudanya. Tapi sia-sia, tiga anak panah menusuk badannya. Ia pun terguling, jatuh dari kudanya.

Cerpen: Maria

Oleh: Mirza Adrian NP


“Ceritakan pada kami kisah tentang kasih sayang” Kata seseorang kepada juru cerita. Maka juru cerita itu menceritakan kisah Maria, pelacur yang terselamatkan:
Jakarta, Di depan sebuah rumah bordil di daerah Hayam Wuruk. Siang itu, Maria diusir dari rumah bordil oleh sang germo. Parasnya sudah tidak cantik, tubuhnya pun sudah tidak sintal. Tak ada lagi yang mau menggunakan tubuhnya. Maria hanya menjadi beban di rumah bordil itu. Dan siang itu dia diusir dari rumah bordil tanpa membawa koper atau barang – tak ada lagi yang ia miliki selain badannya sendiri.
Jam dua belas siang hari, matahari terik di tengah langit – Tak ada angin; tak ada awan. Siang hari di Jakarta adalah waktunya kekejaman dan kesibukan. Waktu manusia menjadi serigala bagi satu lainnya. Waktu untuk kepentingan dan pekerjaan yang memaksa manusia berjuang setiap hari. Dan siang itu, di Jakarta, Maria berjalan menyusuri Pasar Glodok, menembus keramaian orang yang terlalu sibuk untuk memperhatikannya. Siang itu, Matahari menerik dan membakar badannya yang demam. Bibirnya kering kekurangan air dan matanya merah karena debu Ibukota. Maria merasakan cengkraman maut sudah dekat dan Maria berjalan ke sebuah klinik untuk mengharap pertolongan dokter. Dia pergi ke sebuah klinik di pinggir jalan. Saat Maria masuk, semua orang menengok ke arahnya dan menutup hidung mereka dengan reflex. Melihat itu, dihujatnya semua orang, mereka terdiam. Untuk mencegah keributan juru rawat lekas menarik Maria menuju ruang dokter.

Monday, 30 May 2011

Insinyur

Mirza Adrian NP
Pada awalnya Tuhan menciptakan dunia dalam kegelapan.
Lalu Ia ciptakan Insinyur dan teranglah dunia.

Kepadanya kami bergantung,
Dan kepadanya alam tunduk.
Karena dialah yang mampu membuat dan menghancurkan,
Karena dialah yang merancang dan merekayasa.

Makanan yang kami telan hari ini,
dan minuman yang menghilangkan dahaga kami
adalah hasil rekayasanya.

Pakaian yang selalu menempel di badan kami,
dan rumah yang selalu melindungi kami
adalah ciptaannya.

Tak lupa kami panjatkan puji dan syukur atas semua teknologi
yang telah ia wujudkan untuk memudahkan hidup kami.
Mulai dari mobil, telepon genggam, hingga komputer
yang telah menjadi vital bagi hidup kami.

Maka kami lantunkan dengan hikmat mazmur
Atas berkah yang ia berikan pada kami hari ini.
Karena kepadanya kami bergantung
Dan kepadanya alam tunduk.

Proyeksi

Membaca blog seorang teman, saya teringat akan sebuah buku Pengantar Psikologi Freud. Ada suatu hal yang menarik saat saya membaca buku Freud. Di dalam buku ini dijelaskan bahwa psikologi sesorang terbagi atas tiga hal: Id, Ego, dan Super-Ego. Id dijelaskan sebagai anak kecil yang selalu merengek dan meminta. Super-Ego adalah orang tua mahabijaksana yang mengatur moral dan norma seseorang. Sementara Ego adalah penengah keduanya, dia adalah orang dewasa yang rasional yang selalu mencoba untuk mengatur dan memuaskan Id dan Super Ego secara bersamaan. Id dan Super-Ego adalah dua hal yang sifatnya berlawanan yang hanya berinteraksi melalui Ego. Sehingga, pertentangan batin antara Id dan Super-Ego akan selalu membebani Ego dan bisa menyebabkan konflik batin di dalam diri seseorang. Oleh karena itu, Ego dalam keberjalanannya mempunyai mekanisme pertahanan diri untuk meredakan ketegangan dalam diri seseorang. Mekanisme itu adalah Represi, Proyeksi, dan Menahan Perkembangan.

Salah satu bentuk pertahanan diri yang menurut saya paling menarik adalah Proyeksi. Proyeksi adalah mekanisme pertahanan diri Ego yang bekerja dengan cara melimpahkan kecemasan akibat pertentangan batin ke dunia luar. Tujuannya adalah merubah kecemasan neurotis menjadi kecemasan objektif. Dengan cara ini, Ego merubah bahaya dari Id dan Super-Ego yang sulit untuk dihadapi menjadi bahaya dari luar yang lebih mudah untuk dihadapi. Singkatnya, Ego menyalahkan dunia luar (kondisi atau orang lain) untuk membenarkan kesalahan kita sendiri sehingga kita tidak merasa bersalah. Contohnya ketika kita gagal saat ujian, kita menyalahkan soal yang terlalu sulit, bukan kita yang kurang belajar. Dalam kasus ini, Ego kita membentuk suatu solusi untuk memuaskan Super-Ego yang menyalahkan kita karena kurang rajin dan Id yang menuntut kepuasan mendapatkan nilai bagus dengan cara melimpahkan kesalahan pada soal ujian. Bukan kita yang kurang rajin belajar, tapi soal yang terlalu susah sehingga nilai yang baik tidak bisa kita dapatkan. Proyeksi juga bisa dilakukan dengan cara menganggap orang lain berbuat hal yang sama. Contohnya ketika kita mencontek, kita memaafkan diri kita dengan alasan semua orang juga mencontek. Proyeksi seperti ini mengakui kesalahan tetapi mengurangi kecemasan dengan cara melimpahkan kesalahan kepada lingkungan. Dengan mekanisme proyeksi,  Ego dapat meredakan kecemasan dari vonis bersalah dari Super-Ego dan rengekan Id untuk mencapai kepuasan dengan menyalahkan kondisi atau orang lain.

Uniknya, menurut buku yang saya baca, proyeksi adalah perkembangan yang wajar pada manusia karena kita dididik untuk mencari sebab-sebab dari perbuatan kita (Rasionalisasi) dan dicegah untuk menyelidiki motif kita sendiri (Introspeksi). Proyeksi juga dapat mencegah datangnya hukuman dengan menciptakan alasan-alasan atau alibi. Dalam hidup kita, kita diberikan hadiah, baik moral maupun materi, untuk memalsukan kebenaran dan menyalahkan orang lain.

Di blog teman saya ini, saya merasa dia banyak menyalahkan kondisi dan orang lain untuk kesalahan yang, menurut saya, adalah kesalahan dirinya sendiri. Dari kesehariannya pun terlihat dia  sangat yakin bahwa dirinya benar dan orang lain salah meskipun realitanya adalah dirinya salah dan orang lain hanya melihat. Saya kemudian berpikir, sepertinya saya juga melakukan hal yang sama. Dan mulai berpikir bahwa mungkin semua hal yang jelek di dunia ini adalah kesalahan saya, bukan orang lain atau kondisi. Sehingga yang harus diubah adalah saya, bukan orang lain. Mungkin ini yang dirasakan para perajam yang mengurungkan niat mereka untuk merajam seorang pelacur karena ada seorang bijak yang berkata "Barang siapa yang tidak memiliki dosa, silahkan lempar batu yang pertama".

Hmm... Just a thought. #NP Michael Jackson - Man In The Mirror. 

Sunday, 10 October 2010

Mimpi

Orang-orang kerap berkata padaku untuk lekas bermimpi. Mereka bilang, di dalam mimpi aku bisa menjadi apa saja yang aku mau.

"Engkau bisa bermimpi untuk membangun sebuah negeri yang damai dan asri; atau membuat sebuah obat yang membuat orang-orang senantiasa sehat; atau menciptakan benda yang sangat berguna bagi umat manusia." Kata mereka menggurui.

"Sabar," ujarku sambil dikelilingi oleh gambar dan bunyi-bunyi, "Aku sedang merangkai mimpi dari sekotak televisi. Saat ini aku sedang menyusun iklan-iklan ini menjadi mimpiku sendiri. Akan kuberitahukan padamu jika sudah selesai."

Puisi-Puisi

Tentang Waktu
Waktu adalah pembunuh bayaran yang disewa
Tuhan untuk membunuh makhlukNya dengan hati2 sekali.
Dia membunuh dengan lembut
hingga korbannya tidak merasakan sakit sama sekali.


Hujan I
Hujan yang bersijingkat di antara mimpi,
membasuh debu yg mengendap,
menyegarkan udara yang mulai pengap,
menyadarkan kita bahwa ada tempat untuk berteduh.


Hujan II
Hujan mengetukngetuk atapmu tapi kau tak keluar,
Dia sabar menunggumu di sebuah genangan kenangan yang tenang tapi kau tak datang.
Hujan sangat ingin bertemu denganmu.


Hujan III
Hujan ingin mencium sepimu
Hujan ingin memeluk kesahmu
Hujan ingin menidurkan risaumu
Hujan selalu merindukanmu.


Hujan IV
Kusaksikan hujan
dengan keheranan
perjumpaan pertama
Adam dengan dunia.

Kusimak tiap ketuk
langkahlangkah basah
yang tanpa bahasa berkata:
Aku ada.


Hujan V
Aku ingin engkau datang sebelum terik mentari,
Agar biasbias cahaya bisa menjadi warnawarni pelangi.

Aku ingin engkau datang setelah kemarau,
Agar tetestetes berkah bisa menjadi basah di lahanlahan resah.

Aku ingin engkau datang di waktu senja,
Agar bisa engkau menemaniku saat sudah tiba malamku.


Pagi
Daun jatuh tanpa suara;
Angin berhembus tanpa gramatika;
Bau udara setelah hujan yang selalu berkata entah apa;
Senyum bianglala yang kerap menguntai sajaksajak paling makna
yang Kau hadirkan di Bumi tanpa bahasa.


Ma’rifat
Tidak perlu mengerti,
kelahiran,
kematian,
mereka,
Dia,
atau bahkan
saya,
Asal sadar tentang cinta.


Beringin
Beringin itu ikhlas merindang
Untuk siapa saja yang butuh.
Dia tidak meranggas dikala panas,
Tidak takut menghadang angin yang datang.
Dia akan selalu teduh tanpa pernah mengeluh.


Cemara
Cemara di halaman rumahmu hanya bisa terdiam ketika engkau, orang yang menanam dan merawatnya selama ini, pergi dan mungkin tak kembali. Dia akan tetap menunggu; melawan terpaan angin yang sangat senang jika melihatnya terjatuh atau malam yang selalu membuatnya menggigil. Supaya jika engkau kembali suatu saat nanti, engkau akan tersenyum bangga melihatnya tetap tegak berdiri.


Sufi I
Setelah lama menyendiri,
Dia akhirnya menjadi pencinta sepi.
Kini, dia selalu rindui sunyi.
Dia paham sekali,
Di balik sepi yang hakiki,
Tersembunyi yang Mahaesensi.


Sufi II
Sementara kau menjelma sunyi,
Aku menjadi petapa ulung yang pandai bersemedi:
Penafsir sepi yang paling hakiki.


Sufi III
Mana gunung yang paling tinggi?
Biar kudaki!
Aku ingin peluk Rembulan!!!


Mudik
Setelah lama merantau di kotawaktu,
Akhirnya aku pulang ke dalam tubuhmu.
Bernaung di rerimbun puisi yang kutanam di hatimu dulu,
Menenggak cahaya yang mengalir dari sendang matamu.


Kota I
Kota ini sudah tak pernah lagi melihat sepi ataupun sunyi.
Sungguh sunyi hidup kami tanpa sepi di kota ini.
Tolong...
Berikan kami secercah sepi agar kami bisa sejenak bermimpi;
Agar kami bisa bertemu diri kami sendiri.


Tentang Sepi I

Setelah lama aku tidak bertemu sepi,
Aku jadi takut pada sepi.
Takut jika pada suatu sunyi,
Sepi akan datang menghampiri
Menarikku ke kamar mandi
Dan memaksaku melepas baju yang selalu melekat di tubuhku selama ini.

"Mandi!" Hardik sepi.

Aku takut mandi.
Aku takut melihat tubuh telanjangku sendiri
Takut jika tubuhku tidak seindah tubuh yang diiklankan televisi.


Tentang Sepi II
Kata seorang dukun sakti di televisi,
sepi tidak akan menghampiri orang yang mengenakan jimat sakti.
Jimat itu bernama iklan dan bisa dibayar dengan harga diri.
Tanpa pikir panjang, jimat itu kubeli untuk menakuti sepi.

Ampuh!
Sekarang sepi tidak pernah lagi
menggeranyangi tubuhku yang ditempel berbagai macam iklan yang pernah ditayangkan di televisi.
Sekarang aku bisa hidup bahagia tanpa sepi.
Aku selamat dari mandi.
Aku tak perlu lagi melihat tubuh telanjangku sendiri.


Tentang Sepi II

TOLONG!!!

Saya dikepung katakata!!


Catatan Kuliah I
Aku rindu pada biru
Langit hijau
Rumput kuning menyala
Matahari bening
Embun pagi
Yang tak terangkum
Akal
Manusia


Catatan Kuliah II
Datang akal
Hilang pohon
Hilang laut
Hilang pohon
Hilang gunung
Hilang jagad
Hilang semesta
Hilang awan
Pergi Tuhan
Hilang Kita

Kembalikan
Langit Laut Awan
Pohon Hujan Jagad
Tanah Rumput Gunung
Semua
Semesta
Ke dalam diri kita

Kembalikan
Keluasan diri
Serupa Dewa Ruci.


Kerja Bakti
Kotaku lagi mempercantik diri.
Temboktembok nurani di cat ulang, dibersihkan dari grafiti agar putih kembali. Hati sedang direnovasi, dipugar dan dibarukan lagi. Perut jadi kawasan industri dimana rasa yang kusam dibuat jadi warna warni.


Petak Umpet
Ada yang bersembunyi.
Di dalam reremang pagi,
Di selasela puisi yang mencari arti.
Di balik gerimis senja yang menari.

Ada yang mencari.
Merasuk ke lubuk hati yang paling sunyi,
Membabat semua syahwat dan segala birahi,
Lalu berharap pada suatu sepi,
Akan bertemu rindu yang menarinari jadi seekor puisi.


Mayat I
Mayatku bersembunyi di bawah aspal jalan di sebuah kota yg aku sendiri tidak tahu dimana.
Kususuri bayang2 Guevara berharap mayatku bersemayam dibaliknya.
Kuikuti jejak Gie berharap mungkin mayatku terkubur di bekas langkahnya.
Di reremang sajak Chairil aku mencari mayatku yg mungkin tersesat di antara lariknya.
Hingga saat ini mayatku belum kutemukan juga.
Mungkin aku dan mayatku akan saling mencari sampai akhirnya bertemu di sebuah kuburan entah dimana.


Mayat II
Badan yang kukenakan sekarang
sebenarnya adalah mayat yang kubeli di pojokan sebuah iklan.
Lalu kusempurnakan dengan topeng yang kupahat sendiri,
kubuat mirip dengan yang ada di televisi.


Gerilya
Di loronglorong nadi,
Sedang berperang para gerilyawan sepi,
Melawan kedaulatan hati.
Tapi hati tak mau kalah,
Melawan dengan pasukan puisi.


Pasar Malam
Malam ini kamarku jadi pasar.
Ada sepi yg ribut mengamen.
Ada rasa yang jualan makna.
Ada hati yg jualan rindu kualitas ekspor
Ada puisi yg menawar cinta dari katakata.
Ada aku yg menawar tidur dari kasur.


Arwah makna
Mengurai jadi kata,
Menari jadi rasa,
Meriak jadi cinta,
Menjelma jadi kau.


Puisi
Di taman hatiku seekor puisi bernyanyi
Kicaunya menggema di lubuklubuk sunyi
Menggetarkan ronggarongga yg dulu sepi.


Mantera
Dukunkata
telah meneluh rasa
dengan mantera:
mukamukamukamuka
mukamukamukamuka
mukamukamu..


Cinta Setaman
Sudah kutanam-tumbuhkan cinta setaman di hatiku,
Kubiarkan dia melebat di kebun batinku.
Jika dirimu lelah menghadapi terik waktu,
Silahkan engkau berteduh dalam diriku.


Lihat!
Tanganku di akar rumput
Lebih banyak
Yang bisa kusentuh
Lebih dari
Yang bisa engkau rengkuh.


Merdeka!
Kuatkan hati,
Ambil belati,
Tancapkan ke ulu hati!
Dalam mati
Kemerdekaan
Menanti.


Perempuan Malam
Dia datang
Perempuan yg membawa malam di hitam rambutnya
Dan rembulan di cerlang matanya.
Dia masuk merasuk ke dalam mimpiku
Menjajah ranah khayalku
Hingga di benakku
Hanya tersisa malam
Dan rembulan
Dan bintang.


Harakiri
Katakata memilih harakiri daripada mereka dihafal untuk menipu hati.


Penyair
Seorang penyair
bersimpuh
di atas
batubatu sepi.
Menyaksikan:
Seisi dunia mengurai jadi puisi.


Sajak Tentang Sepasang Kekasih Yang Diilhami Mata Kuliah Hidrologi
Laut selalu beriak senang saat sungai
membawa tetestetes rindu hujan yang
dicurahkannya dari balik gunung.
**
Hujan selalu menderai riang
karena tahu sungai akan selalu membawa tetestetes rindunya
kepada laut yang jauh disana.
**
Sungai selalu tenang
mengalirkan riang hujan kepada laut yang beriak senang.
Tak pernah ia berkata tidak kepada sepasang kekasih
yang selalu merindu
tanpa pernah bertemu.
**
Jika tak ada hujan laut tak ada.
Jika tak ada laut hujan tak ada.
Keduanya terikat dalam hukum alam paling purba
yang membuat satu ada untuk lainnya.