Thursday, 29 September 2016

Biner

Di dalam matematika, terdapat sebuah sistem bilangan yang hanya menggunakan angka 0 dan 1. Sistem ini adalah sistem bilangan basis 2 atau lazim dikenal dengan sistem bilangan biner. Dalam bidang informatika, sistem ini digunakan oleh hampir seluruh komputer yang ada di dunia saat ini. Dalam pemrograman, angka 1 dan 0 merepresentasikan pilihan YA atau TIDAK yang memungkinkan sistem untuk menjalankan program. Proses ini disebut logika Boolean, dari penemunya George Boole.

Menariknya, entah disadari atau tidak, sistem biner ala Boole ini merasuki psike massa yang seringkali membuat opsi dari suatu kondisi menjadi biner. Hampir di setiap kejadian, seakan-akan hanya terdapat dua pilihan, antara YA/TIDAK, SUDAH/BELUM, SUKSES/GAGAL, PRO/KONTRA, MENDUKUNG/MENOLAK, dll. Tidak ada pilihan lain selain dua pilihan tersebut -- jika ada pun dianggap menyimpang. Misal, pada Pemilu 2014 lalu, jawaban atas pertanyaan 'Pilih Siapa?' hanya bisa dijawab dengan Jokowi/Prabowo. Jawaban lain seperti tidak memilih atau mendukung kebijakan salah satu calon namun mengkritisi kebijakan lain calon yang sama dianggap jawaban yang aneh.

Dengan melakukan pembineran tersebut, kita telah menafikan kualitas dialektis dunia dan melakukan simplifikasi atas kemungkinan yang bisa dipilih. Padahal, kemungkinan yang dapat kita capai bisa lebih dari sepasang kata yang berlawanan. Namun jika kita melihat melalui simplifikasi biner, kita akan gagal untuk melihat kemungkinan di luar dua opsi yang ditawarkan dan membuat seakan-akan pilihan lain tidak ada. Pembineran realita pada akhirnya akan memiskinkan pengalaman kita akan dunia

Dengan memandang dunia dengan segala kompleksitasnya, kita bisa mendapatkan lebih banyak pembelajaran dari fenomena di sekitar kita. Dengan tidak membatasi pilihan kita menjadi dua, kita bisa membuka kemungkinan lain yang merupakan sintesa dari dua pilihan. Karena realita tidak sesimpel YA atau TIDAK. Toh, refraksi cahaya tidak hanya menghasilkan warna hitam atau putih tapi gradasi warna pelangi. 

Monday, 23 June 2014

Voorijder

Mirza Adrian NP
(21 April 2014)

    Setelah beberapa bulan tinggal di Jakarta, saya menemukan sebuah fenomena yang tidak pernah saya temukan sebelumnya di Bandung: Voorijder di jalan. Mungkin karena di Bandung saya tidak pernah lewat jalan utama (dan pastinya aneh juga kalau ada pejabat dengan voorijder lewat di Cisitu - Tamansari) sehingga saya tidak pernah menemukan kendaraan jenis ini di Bandung. Sejauh ini saya merasa bertemu dengan kendaraan ini adalah kejadian paling mengesalkan yang bisa terjadi di kemacetan Jakarta, setara dengan disembur asap Kopaja atau motor 2-Tak. Dengan sirine yang keras dan meraung, kendaraan ini meminta semua kendaraan lain untuk menyingkir demi kelancaran pejabat di belakangnya. Seakan-akan jalanan Jakarta adalah fasilitas untuk pejabat negara dan rakyat hanya menumpang. Tapi dibalik kekesalan itu, saya kemudian teringat pada sebuah buku yang ditulis oleh Tom Vanderbilt berjudul Traffic.

    Dalam buku ini Vanderbilt berpendapat bahwa kondisi lalu lintas adalah cermin paling jujur dari budaya dan kondisi sosial masyarakat karena menurut dia jalan adalah sebuah wahana interaksi sosial yang paling demokratis dimana semua orang berkumpul dan berinteraksi dengan batasan sistem hukum yang formal dan nonformal di antara pengguna jalan. Dalam buku itu Vanderbilt menulis:
The road, more than simply a system of regulations and designs, is a place where many millions of us, with only loose parameters for how to behave, are thrown together daily in a kind of massive petri dish in which all kinds of uncharted, little-understood dynamics are at work. There is no other place where so many people from different walks of life—different ages, races, classes, religions, genders, political preferences, lifestyle choices, levels of psychological stability—mingle so freely. (Traffic, Tom Vanderbilt)
Sehingga perilaku kita berlalu lintas dapat digunakan sebagai bahan analisis untuk membantu kita untuk memahami kondisi Indonesia yang lebih makro.