Saturday, 21 April 2012

Dongeng Marsinah


Sapardi Djoko Darmono
/1/
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”
/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.
/4/
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?
/5/
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)
apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)
“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)
/6/
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
(1993-1996)

Saturday, 25 February 2012

Dua Puisi Tentang Kenangan dan Hujan


I.

Semenjak jatuh cinta kepada matamu,
hujan yang selama ini dingin dan kaku
sebenarnya selalu berdoa agar bisa meleleh
menjadi air matamu.

Karena mendengar doa hujan yang tulus itu,
aku namakan saja pagi yang menggigil ini,
bukan dengan nama hari ataupun tanggal,
tapi dengan sebuah kenangan yang mampu
mencairkan dinginnya hujan menjadi
hangat tangismu.

Dengan harapan, setelah menetes dari sudut matamu,
dia mampu menjadi sungai yang mengalir di lembah merah jambu pipimu,
membasahi dataran hijau bibirmu, sambil mengikis lumpur
yang selama ini terendap
di hatimu.

II.

Kopi yang kuminum sore ini sebenarnya adalah kenangan
yang mencair dan menetes ke dalam cangkir.
Pahit dan hitam memang, tapi tetap kutenggak habis hingga tinggal ampas.
Sebelum akhirnya menguap dan menghilang tertiup angin
dalam kepulan asap rokok yang kuhembuskan pelan-pelan.

Karena begitulah kenangan,
Karena begitulah kehidupan,
Sayang.

- Mirza Adrian NP

Thursday, 8 December 2011

Meninjau Kembali Gerakan Kemahasiswaan Kita

Tulisan ini berawal dari keresahan pribadi penulis saat melihat kondisi kemahasiswaan di ITB selama penulis mengikuti organisasi kemahasiswaan di kampus. Keresahan ini akhirnya mendorong penulis untuk menganalisis kondisi-kondisi tersebut dan berusaha untuk mencari penyebab utama dari permasalahan yang dihadapi oleh kemahasiswaan di ITB. Tulisan ini mencoba untuk mencari akar permasalahan dan menawarkan sebuah solusi untuk permasalahan-permasalahan yang kita hadapi sekarang.

Monday, 24 October 2011

Pembebasan Lahan: Sebuah Pengantar

Oleh Mirza Adrian NP
Tulisan ini dimuat di Majalah Cremona Edisi ke 9.

Dalam sebuah proses konstruksi, terutama di daerah dengan lahan yang sudah sangat terbatas, proses pembebasan lahan sudah menjadi kepastian. Namun, pelaksanaan pembebasan lahan tidak selalu berjalan lancar. Dalam beberapa kasus, seperti proyek MRT di jakarta, masalah pembebasan lahan telah memperlambat keberjalanan proyek yang hasilnya sangat dibutuhkan oleh publik. Permasalahan utama dari pembebasan lahan adalah pertukaran kepemilikan lahan dari pemilik lahan kepada pemilik proyek. Penyebabnya adalah permasalahan hukum yang berlaku tentang perpindahan kepemilikan lahan masih belum jelas.

Monday, 17 October 2011

Cara untuk mendapatkan tambahan kenikmatan dari Allah

Surat Muhammad Ibnu Bin Abbad kepada Yahya Al-Sarraj.

 Segala puji bagi Allah semata
Seseorang yang ingin menempuh jalan kebenaran dan selamat dari musuhNya, terbebas dari bisikan-bisikan hawa nafsu yang sempit, dan ingin melapangkan inti wujudnya, mestilah lurus perilaku lahiriah dan batiniahnya kepada Allah dalam segala keadaan. Singkat kata, yang dibutuhkan guna memperoleh tambahan dari Allah adalah rasa syukur. Fondasi rasa syukur adalah mengakui keagungan dan transedensi Tuhannya, dan menyadari kekecilan, kerendahan, kekurangan, dan kelemahannya sendiri. Seseorang yang telah menyadari sepenuhnya kedua dasar ini akan memikirkan kata-kata serta berbagai tindakannya yang, berkat Allah SWT, terjadi dalam dirinya dan juga tahap-tahap yang ditetapkan oleh Allah SWT yang telah membawa dirinya ke tempat dia berada sekarang. Dari sana dia  bergerak maju – berkat kemurahan, rahmat, kemahakuasaan, serta kebaikan yang berlimpah dari Allah kepadanya – menuju ke tahap yang tak terpahami oleh intelegensi dan pemahaman. Dari sana pula, cinta dan kekaguman menggerakkan orang tersebut untuk bersyukur kepada Allah SWT, lantaran dia sepenuhnya menjadi peka pada nikmat Allah SWT dan pada cara dia bertindak yang mesti ditempuhnya di hadapan Allah.

Tuesday, 16 August 2011

Merdeka!?


“Dan kamu akan melihat kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”
Yohanes 8:32

Kemerdekaan adalah kemampuan untuk menentukan nasib sendiri. Artinya, kita mempunyai kedaulatan (kekuasaan tertinggi atas diri) untuk menentukan pilihan untuk diri kita sendiri, dan karena setiap pilihan mengandung konsekuensi, maka kedaulatan untuk memilih harus diimbangi dengan kemampuan untuk menjalani konsekuensinya. Kemampuan untuk menyadari dan menjalani konsekuensi dari sebuah aksi mempunyai kaitan yang erat dengan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Dengan kemampuan untuk menyadari dan menjalani suatu konsekuensi yang lebih baik, penipuan dan pembodohan tidak mungkin terjadi karena kita mampu untuk mengambil keputusan sadar untuk diri kita sendiri. Oleh karena itu, ilmu dan pengetahuan adalah sebuah alat pembebasan karena kemampuannya untuk meningkatkan kesadaran kita.
Pendidikan, sebagai sebuah proses penyadaran manusia akan kemanusiaannya, pada dasarnya adalah sebuah laku pembebasan manusia dari belenggu  keterbatasan yang dimilikinya. Dalam proses pendidikan, manusia disadarkan akan kemampuannya untuk menyadari dan memecahkan masalah yang dialaminya melalui transfer ilmu yang diberikan dalam proses pendidikan. Pendidikan, menurut Freire, seharusnya mampu membuat pesertanya untuk menyingkap tabir realitas dan membentuk sebuah praksis perubahan atas permasalahan yang sedang dialaminya. Hal ini terjadi dalam sejarah Republik Indonesia saat bangsa ini sedang mencari identitas kebangsaannya. Indonesia sebagai sebuah bangsa mulai terbentuk di awal abad 20 dan terus berkembang hingga mencapai Proklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945.
Kesadaran akan sebuah identitas kebangsaan lahir dari pendidikan yang diberikan oleh Belanda kepada segelintir orang pada saat itu. Segelintir orang ini mulai melihat adanya perbedaan antara liberalisme yang berkembang di Eropa dan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda di Indonesia. Kesadaran akan hal ini memicu kesadaran untuk berhimpun dan terlibat secara politik dalam pelaksanaan pemerintahan Hindia Belanda dan pada akhirnya menuntut kemerdekaan. Dalam proses ini bisa dilihat bahwa pada saat itu permasalahan bangsa ini – penjajahan dan perpecahan – baru terlihat sejak masyarakat mulai menyadari akan permasalahan itu sendiri sehingga solusi dari permasalahan ini bisa dibentuk melalui perjuangan kemerdekaan yang dilakukan berdasarkan persatuan kebangsaan hingga menghasilkan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Tanpa persatuan kebangsaan ini, mustahil Indonesia merdeka sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita kenal sekarang. Pendidikan yang dilakukan pada saat itu mampu membuat pesertanya untuk menyingkap tabir realitas dan membentuk sebuah praksis perubahan atas permasalahan yang sedang dialaminya.
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno pernah berkata bahwa revolusi bangsa ini belum selesai, perjuangan akan terus berjalan, karena memerdekakan Indonesia hanyalah sebagian dari perjuangan. Revolusi sebagai manifestasi dari dialektika kondisi memang tidak akan pernah selesai karena revolusi selalu menuntut pembaharuan ke arah yang lebih baik dari kondisi zaman yang dinamis. Artinya, setiap masalah tercipta oleh kondisi di zamannya dan menuntut penyelesaian yang unik pada zamannya. Semua masalah yang ada saat ini menuntut solusi agar terselesaikan dan sebelum kita dapat membentuk sebuah praksis perubahan, kita harus tahu masalah yang kita hadapi saat ini. Oleh karena itu, pendidikan yang kita jalani sekarang seharusnya mampu untuk menberikan kita kemampuan untuk menyadari dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh bangsa ini sekarang. Penyelesaian masalah bangsa adalah sebuah bentuk pertanggungjawaban kita atas kemerdekaan yang kita miliki sekarang.

Sunday, 7 August 2011

Mengenai Pelestarian Budaya Indonesia

Budaya adalah sebuah proses pemaknaan dunia yang dilakukan oleh manusia. Artinya, kegiatan berbudaya adalah sebuah kegiatan manusia dalam menciptakan makna yang merujuk pada realitas yang lain daripada pengalaman sehari-hari. Manusia melakukan ini melalui proses kognitif untuk memproduksi dan mengkonsumsi simbol. Sehingga, dapat dikatakan bahwa, dasar dari budaya adalah proses produksi dan konsumsi simbol oleh masyarakat tersebut. Bentuk-bentuk simbolik itu, menurut Ernst Cassirer dalam An Essay of Man, adalah agama, filsafat, seni, ilmu, sejarah, mitos, dan bahasa.
Menurut Koentjaraningrat, budaya di dalam masyarakat dapat dibagi menjadi tiga aspek yaitu mentifak, sosiofak, dan artefak. Mentifak berkaitan dengan pemikiran dan falsafah dasar kebudayaan, sosiofak berkaitan dengan perilaku sosial dan penerapan nyata mentifak dalam kehidupan, dan artefak merupakan hasil nyata dari sebuah kebudayaan yang dapat berupa barang, tarian, teks, atau lagu. Ketiga aspek dari budaya berkaitan antara satu lainnya dan membentuk sebuah kesatuan budaya karena penggunaan dan pembuatan artefak membutuhkan sebuah sosiofak tertentu dengan landasan mentifak masyarakat tersebut. Maka, dapat disimpulkan bahwa pelestarian budaya hanya dapat dilakukan dengan melestarikan proses produksi dan konsumsi simbol di dalam masyarakat melalui pelestarian aspek-aspek pembentuk budaya di dalam masyarakat.

Tuesday, 26 July 2011

To What Extent Did The Successes And Failures Of Black African Nationalism In The 20th Century Depend More On Internal African Issues Than On Global Politics.


By: Mirza Adrian N.P

The dynamic between internal and external issues created circumstances where Black African Nationalism could succeed. Internally, Black Africans had created a volatile condition that could only be solved through decolonization and majority rule. This rebellion attracted the attention of the world who, by 1945, had agreed that freedom and democracy had to be established to keep the peace of the world. Externally, the global economy along with the ongoing Cold War made the success of Black African Nationalism possible. These in turn pressurised the White Settlers to give Black Africans majority rule. However, in some cases neo-colonialism and Cold War sectarianism hindered the development of Black Nationalism. The complexity of interaction between internal and external forces shaped Black Nationalism and dictated its successes or failures.

Wednesday, 20 July 2011

Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Di Indonesia: Sebuah Tinjauan Singkat

Oleh: Mirza Adrian
Pendahuluan
Tidak dapat diragukan lagi, andil UMKM dalam perekenomian nasional sangatlah besar. Di tahun 2009, berdasarkan data Kementrian KUKM, UMKM merupakan 99,99% pelaku ekonomi nasional yang menyerap 97,30% tenaga kerja di Indonesia, dan menyumbang PDB atas dasar harga berlaku sebesar 56,53%[1]. Selain itu, UMKM juga mempunyai ketahanan terhadap resesi ekonomi global karena UMKM tidak terekspos dengan perekonomian global; memproduksi barang kebutuhan sehari-hari daripada barang mewah; bersifat lokal dalam produksi dan pemasaran; dan UMKM, pada umumnya, lebih adaptif dan tidak dibebani oleh biaya administrasi yang mahal (Hill 2001, Manikmas 2003). UMKM juga memiliki beberapa keunggulan dibandingkan usaha besar yaitu inovasi yang mudah terjadi dalam pengembangan produk, kemampuan menyerap tenaga kerja cukup banyak, fleksibilitas dan adaptasi terhadap perubahan pasar yang cepat  lebih baik dibandingkan usaha besar. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengembangan UMKM meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia di era globalisasi sekarang ini.
Namun, pengembangan UMKM di Indonesia belum terjadi secara maksimal karena berbagai kendala. Dari berbagai studi[2], dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi perkembangan UMKM adalah permodalan, pemasaran, kebijakan pemerintah, dan sistem produksi yang dijalankan. Empat faktor tersebut saling berkaitan dalam pengaruhnya ke perkembangan UMKM di Indonesia. Permodalan berhubungan erat dengan institusi perbankan di Indonesia yang memberikan pinjaman kepada pelaku UMKM. Pemasaran berhubungan dengan permintaan produk UMKM dan persaingannya dengan produk-produk luar negeri dan usaha besar. Pasar bebas dengan berbagai negara yang baru disepakati pemerintah Indonesia mempunyai dampak yang besar terhadap produk UMKM. Sistem produksi berkaitan dengan teknologi, tenaga kerja, dan rantai suplai bahan baku dan produk UMKM. Kebijakan pemerintah berkaitan erat dengan produk hukum yang mengatur sistem ekonomi di Indonesia. Masing-masing faktor di atas memberikan kesempatan dan ancaman tersendiri terhadap perkembangan UMKM di Indonesia. Tulisan ini akan membahas, dari faktor-faktor di atas, faktor apa yang paling berpengaruh terhadap perkembangan UMKM dan langkah apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan UMKM di Indonesia.

Monday, 11 July 2011

Teknologi Informasi Sebagai Solusi Permasalahan Distribusi dan Pemasaran Barang Hasil KUMKM Di Indonesia.


Belajar dari sejarah, negara kita mempunyai kemampuan bertahan yang sangat besar di saat krisis. Di saat krisis moneter melanda dunia di tahun 2008 kemarin, banyak negara yang mengalami depresi ekonomi tetapi dampaknya tidak terlalu terasa di Indonesia. Apa yang membedakan Indonesia dengan negara lain di dunia? Jawabannya adalah ekonomi Indonesia tidak terbangun atas jejaring perusahaan global melainkan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUMKM ). Di tahun 2009, berdasarkan data Kementrian KUMKM , UMKM merupakan 99,99% pelaku ekonomi nasional yang menyerap 97,30% tenaga kerja di Indonesia, dan menyumbang PDB atas dasar harga berlaku sebesar 56,53%. Pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia, sektor KUMKM  dan infomal mampu bertahan menghadapi krismon tersebut dan bahkan ikut menyumbangkan dalam pertumbuhan ekonomi sehingga pengembangan KUMKM di Indonesia sangatlah penting untuk ketahanan dan kemandirian ekonomi nasional.
KUMKM  memiliki beberapa keunggulan dibandingkan usaha besar yaitu: Inovasi yang telah mudah terjadi dalam pengembangan produk, kemampuan menyerap tenaga kerja cukup banyak, fleksibilitas dan adaptasi terhadap perubahan pasar yang cepat  lebih baik dibandingkan usaha besar. (Partomo, T.S. 2004) Dilihat dari keunggulannya, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa membangun KUMKM  adalah cara yang terbaik untuk membangun perekonomian nasional karena pembangunan KUMKM  mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan mengembangkan perekonomian nasional yang lebih tangguh dan berdaya saing. Namun pengembangan KUMKM  bukan tanpa kendala.