Thursday, 29 September 2016

Biner

Di dalam matematika, terdapat sebuah sistem bilangan yang hanya menggunakan angka 0 dan 1. Sistem ini adalah sistem bilangan basis 2 atau lazim dikenal dengan sistem bilangan biner. Dalam bidang informatika, sistem ini digunakan oleh hampir seluruh komputer yang ada di dunia saat ini. Dalam pemrograman, angka 1 dan 0 merepresentasikan pilihan YA atau TIDAK yang memungkinkan sistem untuk menjalankan program. Proses ini disebut logika Boolean, dari penemunya George Boole.

Menariknya, entah disadari atau tidak, sistem biner ala Boole ini merasuki psike massa yang seringkali membuat opsi dari suatu kondisi menjadi biner. Hampir di setiap kejadian, seakan-akan hanya terdapat dua pilihan, antara YA/TIDAK, SUDAH/BELUM, SUKSES/GAGAL, PRO/KONTRA, MENDUKUNG/MENOLAK, dll. Tidak ada pilihan lain selain dua pilihan tersebut -- jika ada pun dianggap menyimpang. Misal, pada Pemilu 2014 lalu, jawaban atas pertanyaan 'Pilih Siapa?' hanya bisa dijawab dengan Jokowi/Prabowo. Jawaban lain seperti tidak memilih atau mendukung kebijakan salah satu calon namun mengkritisi kebijakan lain calon yang sama dianggap jawaban yang aneh.

Dengan melakukan pembineran tersebut, kita telah menafikan kualitas dialektis dunia dan melakukan simplifikasi atas kemungkinan yang bisa dipilih. Padahal, kemungkinan yang dapat kita capai bisa lebih dari sepasang kata yang berlawanan. Namun jika kita melihat melalui simplifikasi biner, kita akan gagal untuk melihat kemungkinan di luar dua opsi yang ditawarkan dan membuat seakan-akan pilihan lain tidak ada. Pembineran realita pada akhirnya akan memiskinkan pengalaman kita akan dunia

Dengan memandang dunia dengan segala kompleksitasnya, kita bisa mendapatkan lebih banyak pembelajaran dari fenomena di sekitar kita. Dengan tidak membatasi pilihan kita menjadi dua, kita bisa membuka kemungkinan lain yang merupakan sintesa dari dua pilihan. Karena realita tidak sesimpel YA atau TIDAK. Toh, refraksi cahaya tidak hanya menghasilkan warna hitam atau putih tapi gradasi warna pelangi. 

Thursday, 12 November 2015

Polisi Tidur

Mirza Adrian NP
18 September 2015

Bagi pengendara motor, untuk menghindari kemacetan di jalan-jalan utama Ibukota, salah satu alternatif yang bisa diambil adalah menggunakan jalan-jalan kecil kota Jakarta yang saling terhubung hingga penggunaan jalan utama tidak terhindarkan. Apabila opsi ini digunakan, niscaya akan menemukan banyak gundukan di jalan yang memaksa pengendara tersebut untuk mengurangi kecepatan kendaraan. Gundukan-gundukan tersebut dinamakan Polisi Tidur.

Dalam ilmu transportasi, gundukan ini biasa disebut Speed Bump dan memang berfungsi untuk memperlambat laju kendaraan (traffic calming) sehingga sering dipasang di area perumahan atau pos keamanan. Tapi entah kenapa nama Polisi Tidur digunakan oleh masyarakat luas untuk gundukan yang melintang di jalan-jalan Jakarta. Mungkin karena kegunaannya adalah  untuk "mengatur" kecepatan kendaraan seperti polisi dan posisinya horizontal atau tertidur. 

Di Indonesia, polisi tidur biasanya dibangun oleh warga atau penghuni untuk menghindari kecelakaan lalu lintas di area perumahan atau jalan depan rumah mereka. Fungsi utamanya, biasanya adalah untuk mengamankan anak-anak pada saat mereka bermain di depan rumah. Karena pembangunannya adalah hasil dari swadaya masyarakat, desain dan bahan dari polisi tidur pun beraneka ragam, bergantung pada pandangan warga terkait kebutuhan akan kemampuan gundukan yang akan mereka bangun untuk menghentikan kendaraan. Jika dirasa tidak terlalu perlu, gundukan ini dibuat cukup landai dan pendek. Tapi, jika dirasa kebutuhan ini sangat besar, tidak jarang gundukan ini dibuat curam dengan tinggi gundukan mencapai 10 cm sehingga semua kendaraan harus berhenti saat melewati polisi tidur. 

Thursday, 16 July 2015

Pernikahan dan Masyarakat

Mirza Adrian NP
6 Juli 2015

No union is more profound than marriage, for it embodies the highest ideals of love, fidelity, devotion, sacrifice, and family. In forming a marital union, two people become something greater than once they were. As some of the petitioners in these cases demonstrate, marriage embodies a love that may endure even past death. It would misunderstand these men and women to say they disrespect the idea of marriage. Their plea is that they do respect it, respect it so deeply that they seek to find its fulfillment for themselves. Their hope is not to be condemned to live in loneliness, excluded from one of civilization's oldest institutions. They ask for equal dignity in the eyes of the law. The Constitution grants them that right. -- Justice Anthony Kennedy, Obergefell v. Hodges majority opinion

Under the Constitution, judges have power to say what the law is, not what it should be. The people who ratified the Constitution authorized courts to exercise "neither force nor will but merely judgment." ... It is striking how much of the majority’s reasoning would apply with equal force to the claim of a fundamental right to plural marriage. If “[t]here is dignity in the bond between two men or two women who seek to marry and in their autonomy to make such profound choices,” ... why would there be any less dignity in the bond between three people who, in exercising their autonomy, seek to make the profound choice to marry? If a same-sex couple has the constitutional right to marry because their children would otherwise “suffer the stigma of knowing their families are somehow lesser,” ... why wouldn't the same reasoning apply to a family of three or more persons raising children? If not having the opportunity to marry “serves to disrespect and subordinate” gay and lesbian couples, why wouldn’t the same “imposition of this disability,” ... serve to disrespect and subordinate people who find fulfillment in polyamorous relationships? -- Chief Justice John Roberts, Obergefell v. Hodges dissenting opinion

******

Pada tanggal 26 Juni 2015 lalu, Mahkamah Konstitusi Amerika Serikat dalam kasus Obergefell v. Hodges mengeluarkan sebuah keputusan historis untuk melegalkan pernikahan sesama jenis di Amerika. Keputusan ini didasarkan pada Equal Protection Clause yang tertera pada konstitusi Amerika Serikat Amandemen ke-14 bagian pertama yang berbunyi:
All persons born or naturalized in the United States, and subject to the jurisdiction thereof, are citizens of the United States and of the State wherein they reside. No State shall make or enforce any law which shall abridge the privileges or immunities of citizens of the United States; nor shall any State deprive any person of life, liberty, or property, without due process of law; nor deny to any person within its jurisdiction the equal protection of the laws.
Dalam kasus ini, keputusan untuk melegalkan pernikahan sesama jenis didasarkan pada konsep kesetaraan setiap warga negara untuk mendapatkan perlindungan hukum dari negara serta konsep ketidakmampuan negara untuk menyangkal kehidupan dan kebebasan warga negara tanpa proses hukum yang jelas. Keputusan ini menuai banyak komentar dari sisi pro dan kontra pernikahan sesama jenis di dalam dan luar Amerika. Bagi saya, keputusan ini menunjukkan bahwa, meskipun pernikahan sudah dilakukan selama berabad-abad lamanya, pernikahan tetap menjadi ritual yang sangat rumit bagi masyarakat kita sekarang.

Kerumitan ini muncul karena kita sebagai masyarakat memberikan banyak nilai kepada ritual pernikahan. Mulai dari nilai mengenai kesucian, seksualitas, stabilitas sosial masyarakat, stabilitas demografi, hingga konsep gender tercakup dalam pelaksanaan ritual ini. Bahkan bisa dibilang bahwa pelaksanaan ritual pernikahan merupakan pejawantahan nilai-nilai yang terkandung dalam hukum adat, agama, dan negara yang berlaku di dalam masyarakat. Selain itu, pada negara yang sekuler, kerumitan pernikahan juga ditambah dengan adanya pemisahan antara agama dan negara. Hal ini berakibat pada pengesahan pernikahan yang turut terpisah pada dua institusi tersebut. Dalam pemisahan tersebut, dimungkinkan terjadinya pertentangan antara hukum agama dan hukum negara seperti yang terjadi pada kasus Obergefell v. Hodges di Mahkamah Konstitusi Amerika Serikat - perlu diingat bahwa pengaruh Kristen Konservatif yang menentang pernikahan sesama jenis di Amerika juga cukup kuat.

Pemberian hak legal kepada pernikahan sesama jenis di Amerika mengingatkan kita bahwa hingga saat ini definisi dari pernikahan bukan merupakan sebuah kesimpulan yang bersifat ajek namun lebih merupakan rangkaian pertanyaan terbuka yang jawabannya bergantung pada interpretasi masyarakat yang berlaku mengenai hubungan intim antar-personal. Dimana garis batas tindakan publik dan privat? Apa batas-batas perilaku "alami"? Bagaimana seharusnya "tindakan membahayakan" atau "tindakan konsensual" didefinisikan? Apa yang harus dilakukan ketika pandangan mengenai seksualitas bertentangan dengan nilai-nilai fundamental lainnya? Dan peran apa yang harus diambil negara dalam pengaturan moralitas, penjagaan kesehatan, pendefinisian perilaku yang melenceng, serta perlindungan kepada kelompok rentan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanyalah sebagian kecil dari pertanyaan mengenai pernikahan yang sah. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebagai masyarakat kita tidak pernah sepenuhnya setuju. Selain itu, jawaban kita pun terus berubah sesuai dengan interpretasi zaman. Seringkali, pertentangan ini muncul dari banyak aspek. Dalam aspek hukum, filsafat, politik, dan kehidupan publik, masalah pernikahan telah memicu perdebatan di dalam masyarakat dari Abad 17 hingga sekarang.

Monday, 11 May 2015

Kemacetan Jakarta

Mirza Adrian NP
11/05/2014

Dari sejak saya kuliah, saya selalu tertarik dengan ilmu transportasi. Oleh sebab itu saya mengambil Transportasi sebagai subjur saya di Teknik Sipil ITB. Meskipun tema Tugas Akhir saya lebih membahas mengenai struktur perkerasan, saya tetap memiliki ketertarikan yang besar terhadap sistem transportasi. Oleh sebab itu setelah kelulusan saya pada bulan April 2013, saya bekerja di Asdep Transportasi Kemenko Perekonomian RI sebagai tenaga honorer sebelum akhirnya pindah. Pada bulan Oktober 2013, saya bekerja di sebuah perusahaan BUMD yang telah ditunjuk untuk membangun prasarana Mass Rapid Transit di Jakarta oleh Pemda DKI Jakarta. Saya cukup bangga bekerja disini karena saya merasa menjadi bagian dari sebuah pembentukan sejarah transportasi di Indonesia. Dan selain itu, saya juga merasa menjadi bagian dari solusi kemacetan Jakarta.

Banyak orang yang berharap pada MRT Jakarta. Hal ini bisa dilihat dari pertanyaan yang saya terima setiap kali saya menyebutkan pekerjaan saya: "Kalo habis ada MRT, Jakarta bakalan tetep macet ga?" Saya selalu menjawab pertanyaan ini dengan mudah: "Iya, Jakarta pasti akan tetap macet meskipun sudah ada MRT Jakarta". Saya menjawab seperti itu bukan sebagai upaya menjatuhkan MRT Jakarta namun sebagai upaya menyadarkan setiap orang di Jakarta bahwa kemacetan di Jakarta bukanlah sebuah permasalahan infrastruktur. Namun sesuatu yang jauh lebih besar dari itu.

Sejauh ini, Pemda DKI Jakarta telah berupaya banyak untuk menyelesaikan kemacetan Jakarta. Mulai dari penambahan ruas jalan, pelebaran lebar jalan, pembangunan jalan layang, mengembangkan Trans Jakarta dan kereta commuter line, hingga memberlakukan PNS wajib menggunakan kendaraan umum pada hari Jumat pertama di tiap bulan. Namun semua upaya tersebut terbukti gagal dalam menyelesaikan kemacetan Jakarta. Kota ini akan terus bertambah macet. Bahkan, selama saya tinggal di kota ini, hanya ada satu kejadian yang telah terbukti mampu menyelesaikan kemacetan Jakarta berkali-kali: IDUL FITRI. Dari sini mungkin kita bisa menyimpulkan bahwa kemacetan Jakarta hanya bisa diselesaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Atau kita juga bisa menyimpulkan bahwa permasalahan kemacetan Jakarta bukanlah permasalahan infrastruktur atau kebijakan daerah.

Sunday, 18 January 2015

Pourquoi Charlie?

Mirza Adrian NP
14 January 2015

On Wednesday 11 January 2015, two gunmen armed with assault rifles stormed the office of Charlie Hebdo magazine in Paris. They shot dead 11 people including the editor and some cartoonists. While escaping, they also shot dead one police officer. In total, 12 people are killed in the attacks and 11 people are wounded. The gunners were taking revenge on Charlie’s frequent depiction of Prophet Mohammad (PBUH) on their magazine cover which is an act of blasphemy for the Moslems since Islam has a strong tradition of aniconism, and it is considered highly blasphemous in most Islamic traditions to make a picture of Muhammad. This, compounded with a sense that the cartoons insulted Muhammad and Islam, offended the attackers and their supporters.

As a response, the world (or at least Europe and America) stood up in vigil for the dead and condemn the attack to Charlie Hebdo as an attack on freedom of speech. In the internet, the phrase Je suis Charlie (I am Charlie) became widespread as a show of support with those who were killed at the Charlie Hebdo shooting, and by extension, a show of support to freedom of speech and resistance to armed threats. Some journalists and cartoonists embraced the expression as a rallying cry for the freedom of self-expression and attached figurative drawings of the might of pens and pencils over guns. Charlie Hebdo itself ‘retaliates’ by publishing another cover of the magazine with Mohammad holding the sign “Je Suis Charlie” and print 1 million copies showing that they are undeterred by the attacks and will continue to act upon their freedom of speech and expression, even though some people might consider their action as blasphemy.

Many things could be learned from this event to prevent other shootings in the future and history will surely analyze this event as an example of turbulence in the 21st century – along with other horrendous massacres that had happened so far. For me, the event and its aftermath brought two important questions: (1) what is the limit of freedom of speech and expression? and (2) How should freedom of speech and expression conducted in a globalized world? In this writing, I will try to answer both questions and try to reach a conclusion regarding this event and its contribution to the discussion of freedom. Readers may note that, because of my limited understanding on the subject, this writing will contains mistakes and I hope for the readers to correct my mistakes and start a discussion.

Thursday, 27 November 2014

Get Rich or Die Tryin’

Oleh Mirza Adrian NP
27 November 2014

Judul tulisan ini diambil dari nama album perdana 50 Cent yang keluar pada tahun 2003. Sejujurnya saya tidak terlalu suka dengan hip-hop jenis ini karena menurut saya liriknya terlalu monoton dengan terus mengusung kekerasan dan gaya hidup seorang “gangsta” yang bergelimang harta. Namun di tengah kemacetan Jakarta, judul album ini muncul di pikiran saya sebagai sebuah konsekuensi logis dari sistem sosial yang berjalan di negara ini. Seruan Get rich or die tryin’ (menjadi kaya atau mati berusaha) adalah reaksi logis pada individu yang berada didalam masyarakat yang menganut Darwinisme sosial sebagai sistem sosial. Pada masyarakat yang demikian, satu-satunya jalan agar individu bisa berjaya adalah dengan menjadi kaya sementara individu yang miskin akan mati digilas oleh mereka yang kaya.

Dari pengalaman saya, Indonesia adalah negara paling liberal yang pernah saya lihat. Di negara ini, prinsip Laissez-Faire dirangkul sepenuhnya sebagai sistem sosial sehingga setiap orang ditinggalkan untuk berjuang demi hidupnya sendiri. Intervensi pemerintah untuk menjamin standar minimal kesejahteraan sosial hampir tidak ada atau, jika ada, tidak berjalan. Sehingga setiap individu dipaksa untuk menjamin sendiri semua sumber daya yang dia butuhkan untuk keberlangsungan hidup dirinya dan keluarganya. Artinya, setiap orang harus mempersiapkan sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan dasar yang meliputi pangan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan transportasi tanpa bisa mengharapkan bantuan dari pihak manapun. Atau dengan kata lain, dilarang miskin di Jakarta karena setiap orang diwajibkan untuk menjadi kaya. Jika individu tersebut miskin, maka dia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sehingga untuk bertahan hidup dia harus terus berusaha hingga dia menjadi cukup kaya untuk memenuhi semua kebutuhannya atau hingga dia mati – sesuai dengan judul album 50 Cent: Get Rich or Die Tryin’.


Perasaan inilah yang sedang saya alami sekarang. Di tengah keramaian Jakarta yang sudah tidak wajar ini, saya sedang berusaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan Istri saya. Namun, hingga sekarang, terdapat banyak keraguan mengenai pemenuhan kebutuhan saya di masa depan.

Monday, 23 June 2014

Voorijder

Mirza Adrian NP
(21 April 2014)

    Setelah beberapa bulan tinggal di Jakarta, saya menemukan sebuah fenomena yang tidak pernah saya temukan sebelumnya di Bandung: Voorijder di jalan. Mungkin karena di Bandung saya tidak pernah lewat jalan utama (dan pastinya aneh juga kalau ada pejabat dengan voorijder lewat di Cisitu - Tamansari) sehingga saya tidak pernah menemukan kendaraan jenis ini di Bandung. Sejauh ini saya merasa bertemu dengan kendaraan ini adalah kejadian paling mengesalkan yang bisa terjadi di kemacetan Jakarta, setara dengan disembur asap Kopaja atau motor 2-Tak. Dengan sirine yang keras dan meraung, kendaraan ini meminta semua kendaraan lain untuk menyingkir demi kelancaran pejabat di belakangnya. Seakan-akan jalanan Jakarta adalah fasilitas untuk pejabat negara dan rakyat hanya menumpang. Tapi dibalik kekesalan itu, saya kemudian teringat pada sebuah buku yang ditulis oleh Tom Vanderbilt berjudul Traffic.

    Dalam buku ini Vanderbilt berpendapat bahwa kondisi lalu lintas adalah cermin paling jujur dari budaya dan kondisi sosial masyarakat karena menurut dia jalan adalah sebuah wahana interaksi sosial yang paling demokratis dimana semua orang berkumpul dan berinteraksi dengan batasan sistem hukum yang formal dan nonformal di antara pengguna jalan. Dalam buku itu Vanderbilt menulis:
The road, more than simply a system of regulations and designs, is a place where many millions of us, with only loose parameters for how to behave, are thrown together daily in a kind of massive petri dish in which all kinds of uncharted, little-understood dynamics are at work. There is no other place where so many people from different walks of life—different ages, races, classes, religions, genders, political preferences, lifestyle choices, levels of psychological stability—mingle so freely. (Traffic, Tom Vanderbilt)
Sehingga perilaku kita berlalu lintas dapat digunakan sebagai bahan analisis untuk membantu kita untuk memahami kondisi Indonesia yang lebih makro.

Monday, 2 June 2014

A Call to Arms: Jakarta Book Cooperative Project

By Mirza Adrian NP
(5 April 2014)

Cicero once said that if you have a garden and library, you have everything. In that case, I feel that Jakarta is an impoverished city since this city has neither garden nor library, only offices and malls.
***

For those of you who have been in Jakarta, you can easily see that the daily routine of this city revolve around getting our way through the traffic from home to work and back every day. For most people, waking up as early as five o'clock in the morning means preparing themselves to face up to three hours of traffic to get to work then work for nine hours before facing the traffic again for another three hours. During the traffic, most people are alone in their car cursing other people around them, while at the same time being cursed by other people around them. The same thing happens on their way home and after they arrive at home, people are all spent and tired. They go to bed to reset the cycle and the next day the whole thing start all over again. This routine leaves no time for meaningful socialization where people actually share feelings and ideas to other people.

Also, the lacks of public space that exist in Jakarta confine people from meeting with different type of people from another group of society or class. For most people in Jakarta, the only public space available to meet up with other people is the mall which is abundant in this city. However, as a public space, the mall is isolated from the outside world. Within the mall, the middle class can spend their time to socialize undisturbed by the poorer part of the society. This stark division and social confinement leads to a narrow point of view that is laden with bias and prejudice which breeds social distrust within our society. By perpetuating our current way of life we are wasting our social capital and create a very unliveable city.

However, I believe that this can be changed. And I would like to change all that by creating a public library. But I am not planning to build an ordinary library. I am planning to make a communal library in the heart of Jakarta in the form of cooperative so people across our society can be involved with the creation of this library. Thus, this library will be a library that is created from the people, by the people, and for the people of Jakarta. I hope that by making a communal library we can increase the amount of meaningful interaction between people to share feelings and ideas with other people from different background, class, and ethnics. I feel that through the increase interaction we can increase the social capital of our society and make Jakarta a more liveable city.


Wednesday, 27 March 2013

The Application of Genetic Algorithm in Backcalculating Pavement Moduli of Three-Layered System Structures Using Database Approach

By Mirza Adrian NP*
ABSTRACT
Pavement structural evaluation plays an important role in road maintenance. One method to perform pavement structural evaluation is by performing Non-Destructive Test, such as Falling Weight Deflectometer, on pavement structures and performs backcalculation to calculate the pavement’s layer moduli using the acquired FWD deflection data. One approach to perform backcalculation is by using a database of pavement deflection. Using this approach, the calculation of pavement moduli is done by interpolating between enveloping moduli saved within the database. Thus, the accuracy of the results from this approach greatly depends on the data and the method of interpolation. Also, the problem of backcalculation is a complex multi-dimensional problem that has many local minima within the solution space. To avoid that, Genetic Algorithm is used because of its ability to perform global search within the solution domain.
This report studies the database approach for backcalculation and found that backcalculation can be done accurately using a database containing 37.240 pavement deflection data. This database is acquired from combining 49 asphalt moduli (E1), 40 sub-base moduli (E2), and 19 subgrade moduli (E3). This report also found that the semi-logarithmic method of interpolation is a better method to interpolate pavement deflection compared to the linear method of interpolation. The database and the interpolation method are then used to develop Genetic Algorithm based software to perform backcalculation on pavement deflection. Comparison with programme GA BackCalc for 27 real deflection data shows that the results compares favourably well even though the calculation time is quite lengthy.

Keywords: genetic algorithm, backcalculation, pavement evaluation, database

* This is an abstract for my undergraduate thesis. If you would like to see the complete text, you can contact me through my email mirza.adrian@gmail.com

Friday, 4 January 2013

Letter To My Younger Self 8 Years Ago.

Dear Mirza,

Soon, on July 2004, you will move to London and start a new life. This will be a hard thing for you to cope. So I am writing this letter to you from the future hoping that it will help you in getting through this transitional phase. I hope that you read this carefully and act upon this writing accordingly.

***

My dear Mirza, at some points in your life, people will leave you. At some other points in your life, you will leave people. Either way, during these points in your life, you will feel very lonely. You know, that feeling that you're facing this world and all of its evil and problems on your own without friends to share your worries and stories, help your problems, or laugh at your jokes. You know, lonely.

But don't worry. From my experience, I know that it will pass. And will, eventually, come again. It is a cycle that you will feel now and again. In my (or should I say our) case, the cycle time is about four or five years. So I've grown quite used to it. But still, it strikes me (well, loneliness is not the best feeling in the world).

The frequencies of me facing this problem necessitates me to devise a way to cope with these time of my life (or in psychoanalytic diction, create a form of defence for the Ego to face reality without it experiencing much disturbance, you will learn about this later). Perhaps, if I share it here, it will be much use to you right now.

My advice is simply (well like all good advice, simple to say but not that simple in reality) to forget what you had, cherish what you have, and embrace what you will have.

Now, I know that you will disagree with all of my statement above.

You will disagree with the first point, "forget what you had". I know you will come up with the question "How can you forget those fond memories that you have with those dear friends?" to deny it. Well, my answer is this: whatever you had or experienced in the past, in the end, had past. Wallowing yourself in memories and "what had happened" does not help you to cope with the life you're about to live. And, I'm saying this from experience, you will eventually forget. You will eventually forget about people and people will also forget about you. From experience I know that the thought that people will remember people forever and ever is nothing but an illusion. And I know, if you're reading this at the initial phase of your transition, you will, out of sentimentality, disagree with me strongly. But, later - perhaps when you don't even remember ever reading this - you'll see the truth in my statements.

You will also disagree with my second point, "cherish what you have". Again, I know you will deny it with the question "What is there to cherish? I'm not enjoying anything at the moment!" To you, my answer is this: love every seconds of your life however bad yours is. Because whatever you have right now, be it heaven or hell, is the only thing you have right now. You don't have anything that you don't have right now. All you have is now. So cherish it. From observation I know this to be true, "Happiness comes to people who cherish" and "Happiness will never come to those who don't appreciate what they already have". So cherish, and I guarantee you'll be happy.

Lastly, you will also disagree with my last point, "embrace what you will have". The question that you use to deny my point this time is, "How can I embrace my currently unknown future?" My answer is this: Life will not disappoint you. Provided that one condition is fulfilled. Life will not disappoint you if, and only if, you accept whatever life gives to you. Now I know that from your point of view right now the future looks dark and full of unknowns and uncertainties. It is a very scary view indeed. But soon, and little by little, life will shine onto the darkness and reveal some amazing things, and also some awful things. My advice to you is to accept them all. Take and appreciate the amazing things. With the awful things that life gives you, also take them and learn from them. This, my dear Mirza, is the process of growing up. If you refuse some things, you will lose some of life treasures and, more importantly, lose some of life lessons. From experience, I've learned that accepting everything that life gives is a way to get a fuller life. So just accept everything, and life will not disappoint you.

***

My dear Mirza, this is all the advice I can give to you right now. What you are feeling right now is temporary, like all phases of life are. Just face it as best as you can. I hope, in fact I know, that you'll be alright. But at the same time also not alright. Mais, c'est la vie (I know you don't understand French right now so look it up. This phrase could be one of your life motto later).



Live well Mirza.
                             
Best Regards,
Your Future Self.

                                                                                                                     
*PS: You might want to keep this letter as you will need it again in 8 years – at the end of your college life. When you reach 2013, tell your future self that this letter is still valid and that he doesn't have to worry about a thing. Thanks.

Friday, 26 October 2012

Dangdut: Goyangan Jiwa Masyarakat Indonesia




  Tulisan ini disajikan dalam Forum Kebudayaan Indonesia di ITB. Tulisan ini lebih merupakan ringkasan buku yang ditulis oleh Andrew Weintraub berjudul Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music yang kemudian diterjemahkan menjadi Dangdut: Musik, ldentitas, dan Budaya Indonesia oleh Arif Bagus Prasetyo dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.

Oleh: Mirza Adrian NP

Banyak orang yang berkata bahwa dangdut adalah musik yang tidak pantas untuk dikaji, bahkan mendengarkan musik dangdut di kelas social tertentu adalah tindakan yang memalukan. Dangdut selalu dipandang sebagai musik yang kacangan, katro, norak, kampungan, ndeso, dan selalu dipandang sebelah mata oleh kelas menengah ke atas dalam posisinya sebagai musik populer Indonesia. Namun, Dangdut, sebagai sebuah musik populer yang mampu menembus berbagai macam lapisan masyarakat, bisa menjadi sebuah prisma yang berguna untuk melihat kondisi masyarakat kita, melebihi musik pop, rock, atau jazz. Sehingga, kajian mengenai dangdut pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk melihat paradigma masyarakat Indonesia secara mendalam dari sudut pandang yang lebih santai. Tulisan ini akan menjabarkan cerita perkembangan Dangdut yang diambil dari buku Andrew Weintraub berjudul Dangdut: Musik, ldentitas, dan Budaya Indonesia dan akhirnya mencoba untuk mejawab pertanyaan: Di era sekarang ini, dimana pilihan musik hampir tanpa batas, apakah dangdut masih relevan untuk dikaji?

Tuesday, 17 July 2012

Statement of Intent


The unknowns for scientists is like the wilderness for explorers - it is a blessing of discovery, the thrill of adventure. So come, my love, let us go into the wild! We have oceans to sail, mountains to climb, and wilderness to explore. In short, we have the world and beyond to discover! Let us push the boundary of the known world. We shall be the first human to witness the new world. First eyes to see, first ears to hear, the first human to know the new world. For we are its discoverer.
But, my love, I shall warn you, the road won’t be easy. For we will walk paths never trodden before. Without any guidance - not even maps nor stars to show us the way. Without any assurance that our resources is enough to carry us. And at times, we will have to force our heart and nerve and sinew to serve us long after they are gone. But, we shall endure, my Love! We will hold on, with nothing except our Will which says to them: ‘Hold on!’.
Since it is our passion.
It is the reason of our existence.

Saturday, 14 July 2012

Kerusakan Struktur Jalan


Mirza Adrian NP (150 08 040)
Gini Arimbi (150 08 044)
Ditulis untuk artikel di Majalah Cremona 2012

Jalan merupakan infrastruktur terpenting dalam sistem transportasi darat di Indonesia. Terjaminnya struktur perkerasan yang baik akan menjamin keberlangsungan sistem transportasi yang baik pula. Namun, struktur jalan yang tersedia di dalam sistem transportasi darat ternyata belum mampu untuk memenuhi standar sehingga sistem transportasi darat di Indonesia tidak bisa memberikan layanan yang memadai. Akibatnya, terjadi banyak kerugian yang harus ditanggung oleh pengguna jalan baik secara makro maupun mikro. Secara mikro, kerusakan jalan menyebabkan kerusakan pada kendaraan dan pengurangan laju kendaraan sehingga menambah biaya operasi kendaraan dan memperlambat waktu tempuh. Pengaruh ini akan memperlambat keberjalanan ekonomi secara makro karena memperlambat perdagangan dan mempengaruhi aksesibilitas barang. Oleh karena itu, kondisi jalan yang baik harus dicapai untuk menghindari hal-hal ini.

Kerusakan pada struktur jalan terbagi menjadi dua kriteria besar: retak dan deformasi permanen. Kerusakan retak adalah kerusakan struktur jalan yang terjadi akibat pelepasan lapisan permukaan dari lapisan bawahnya. Kerusakan ini terjadi akibat beban tarik yang terjadi di lapisan permukaan melebihi kapasitas tarik bahan perkerasan. Sementara kerusakan deformasi permanen adalah kerusakan yang terjadi akibat penurunan permukaan tanah. Kerusakan ini terjadi karena beban yang diterima oleh jalan tidak mampu dipikul oleh lapisan tanah dasar. Kerusakan-kerusakan ini terjadi akibat beberapa faktor, antara lain perilaku pengguna jalan, pengaruh lingkungan, dan pelaksanaan konstruksi struktur perkerasan jalan. Seluruh faktor tersebut harus direkayasa untuk menjaga kondisi jalan yang baik.

Wednesday, 4 July 2012

Belajar Membaca

Mirza Adrian NP

Masihkah Anda ingat saat Anda kecil dan baru mulai belajar membaca? Saat kita baru bisa mengeja, menyuarakan aksara sesuai dengan ajaran lingkungan kita? Bahwa huruf “A” berbunyi “ā” bukan “ĭ”. Kemudian kita belajar untuk merangkai huruf-huruf itu menjadi sebuah kata. Kata kemudian dirangkai menjadi kalimat. Lalu kita mulai berkenalan dengan Ibu Budi yang memasak di dapur, Bapak Budi yang bekerja di kantor, dan Budi yang suka bermain bola. Seiring dengan waktu, hal-hal yang kita baca semakin kompleks. Buku-buku sudah banyak yang habis kita baca, mulai dari buku pelajaran hingga novel-novel sudah ditamatkan. Beberapa bahkan berkali-berkali. Namun sudahkah kita membaca?

Kita bisa membaca karena manusia sebagai makhluk yang berakal mempunyai kemampuan untuk memproduksi dan mengonsumsi simbol. Selain itu, manusia juga telah menciptakan bahasa lisan dan tulisan sebagai medium untuk berkomunikasi, untuk menyampaikan simbol yang sudah diproduksi kepada penerima yang akan mengonsumsi. Sehingga proses membaca pada dasarnya adalah sebuah proses mengartikan dan memaknai, mengubah simbol-simbol, dalam kasus ini adalah aksara, menjadi suatu abstraksi yang bermakna di dalam kepala kita. Namun, simbol tidak terbatas hanya pada aksara, segala sesuatu yang bisa dimaknai lebih dari penampakan fisiknya adalah simbol. Dengan kemampuan kita untuk memproduksi dan mengonsumsi simbol, kita bisa membuat segala sesuatu menjadi simbol dan kita juga bisa membaca segala sesuatu sebagai simbol. Contohnya, sebuah garukan di kepala bisa diartikan sebagai kebingungan, bukan sekedar gatal yang harus digaruk. Maka dengan cara yang sama, kita seharusnya juga bisa membaca pohon, angin, daun, langit, atau apapun di sekitar kita. Akan tetapi, kita sepertinya sudah kehilangan kemampuan kita untuk membaca lingkungan di sekitar kita.

Zaman modern telah meredam kemampuan kita membaca lingkungan sekitar kita. Zaman ini telah menutup pembacaan manusia terhadap lingkungan menjadi sebuah pembacaan yang mekanistis, terstruktur, dan rasional. Tak ada lagi tempat untuk hal-hal yang gaib, spontan, dan irasional. Padahal sebagian dari kemanusiaan kita terletak di dalam kegaiban, spontanitas, dan irasionalitas itu. Hal ini wajar karena pengalaman manusia modern tentang lingkungan adalah sebuah pengalaman eksploitasi dimana alam adalah sumber daya yang diolah menjadi pemenuh kebutuhan manusia. Maka, ketika kita melihat pohon, yang kita baca adalah nilai guna dari sebuah pohon. Karena secara rasional, sebuah pohon akan lebih baik (baca: menguntungkan) jika dibuat menjadi mebel atau minimal penghias taman.

Padahal ada pemaknaan lebih yang bisa kita dapatkan pada pohon, lebih dari sekedar keuntungan dan nilai guna. Ada yang gagal kita baca, ada kegaiban yang gagal kita rasakan. Ada pesan dalam sepoi angin yang menggoyang dedaunan yang gagal kita maknai dalam keseharian kita. Ada keindahan yang selalu terlewati di sana. Ada yang harus kita temukan kembali dari sekitar kita. Sesuatu yang telah lama tidak kita baca hingga kita lupa cara membacanya. Ada yang harus kita pelajari kembali cara membacanya.

Selamat membaca!

Sunday, 24 June 2012

Resensi Mwathirika

Sebuah Lakon Tentang Cerita Kehilangan dan Cerita yang Hilang
Mirza Adrian NP
Pembaca dan Penulis Amatir
Ketika kita membaca sejarah, kita dapat melihat kembali banyak peristiwa yang telah terjadi namun tidak akan lengkap, tidak akan penuh dan menyeluruh. Selalu ada bagian dalam sejarah yang tidak akan terbaca. Dari pembacaan tentang pergolakan revolusi Indonesia, contohnya, kita bisa menelusuri perkembangan perjuangan – kalah menang peperangan, perundingan, atau pidato-pidato tokoh. Tetapi pengalaman seorang spesifik individu – penderitaan, euphoria, atau ketakutan individu – tidak akan pernah tertulis di dalam buku sejarah. Hal ini disebabkan karena sejarah, pada dasarnya, adalah kumpulan dari beragam biografi yang telah melalui sebuah proses depersonalisasi. Sejarah adalah rangkaian peristiwa yang berpengaruh dalam perkembangan dunia dan manusia secara menyeluruh, bukan proses yang dilalui oleh individu di dalam prosesnya untuk ‘menjadi’. Cerita individu inilah yang tidak pernah tercantum di dalam sejarah – cerita mereka telah hilang ditelan oleh sejarah.

Saturday, 21 April 2012

Dongeng Marsinah


Sapardi Djoko Darmono
/1/
Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”
/2/
Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”
/3/
Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lenkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.
Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.
Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.
/4/
Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan —
sempurna, sendiri.
Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah ebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?
/5/
“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)
apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)
“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”
(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)
/6/
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.
Kita tatap wajahnya
setiap hari pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.
Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.
(1993-1996)

Saturday, 25 February 2012

Dua Puisi Tentang Kenangan dan Hujan


I.

Semenjak jatuh cinta kepada matamu,
hujan yang selama ini dingin dan kaku
sebenarnya selalu berdoa agar bisa meleleh
menjadi air matamu.

Karena mendengar doa hujan yang tulus itu,
aku namakan saja pagi yang menggigil ini,
bukan dengan nama hari ataupun tanggal,
tapi dengan sebuah kenangan yang mampu
mencairkan dinginnya hujan menjadi
hangat tangismu.

Dengan harapan, setelah menetes dari sudut matamu,
dia mampu menjadi sungai yang mengalir di lembah merah jambu pipimu,
membasahi dataran hijau bibirmu, sambil mengikis lumpur
yang selama ini terendap
di hatimu.

II.

Kopi yang kuminum sore ini sebenarnya adalah kenangan
yang mencair dan menetes ke dalam cangkir.
Pahit dan hitam memang, tapi tetap kutenggak habis hingga tinggal ampas.
Sebelum akhirnya menguap dan menghilang tertiup angin
dalam kepulan asap rokok yang kuhembuskan pelan-pelan.

Karena begitulah kenangan,
Karena begitulah kehidupan,
Sayang.

- Mirza Adrian NP

Thursday, 8 December 2011

Meninjau Kembali Gerakan Kemahasiswaan Kita

Tulisan ini berawal dari keresahan pribadi penulis saat melihat kondisi kemahasiswaan di ITB selama penulis mengikuti organisasi kemahasiswaan di kampus. Keresahan ini akhirnya mendorong penulis untuk menganalisis kondisi-kondisi tersebut dan berusaha untuk mencari penyebab utama dari permasalahan yang dihadapi oleh kemahasiswaan di ITB. Tulisan ini mencoba untuk mencari akar permasalahan dan menawarkan sebuah solusi untuk permasalahan-permasalahan yang kita hadapi sekarang.

Monday, 24 October 2011

Pembebasan Lahan: Sebuah Pengantar

Oleh Mirza Adrian NP
Tulisan ini dimuat di Majalah Cremona Edisi ke 9.

Dalam sebuah proses konstruksi, terutama di daerah dengan lahan yang sudah sangat terbatas, proses pembebasan lahan sudah menjadi kepastian. Namun, pelaksanaan pembebasan lahan tidak selalu berjalan lancar. Dalam beberapa kasus, seperti proyek MRT di jakarta, masalah pembebasan lahan telah memperlambat keberjalanan proyek yang hasilnya sangat dibutuhkan oleh publik. Permasalahan utama dari pembebasan lahan adalah pertukaran kepemilikan lahan dari pemilik lahan kepada pemilik proyek. Penyebabnya adalah permasalahan hukum yang berlaku tentang perpindahan kepemilikan lahan masih belum jelas.

Monday, 17 October 2011

Cara untuk mendapatkan tambahan kenikmatan dari Allah

Surat Muhammad Ibnu Bin Abbad kepada Yahya Al-Sarraj.

 Segala puji bagi Allah semata
Seseorang yang ingin menempuh jalan kebenaran dan selamat dari musuhNya, terbebas dari bisikan-bisikan hawa nafsu yang sempit, dan ingin melapangkan inti wujudnya, mestilah lurus perilaku lahiriah dan batiniahnya kepada Allah dalam segala keadaan. Singkat kata, yang dibutuhkan guna memperoleh tambahan dari Allah adalah rasa syukur. Fondasi rasa syukur adalah mengakui keagungan dan transedensi Tuhannya, dan menyadari kekecilan, kerendahan, kekurangan, dan kelemahannya sendiri. Seseorang yang telah menyadari sepenuhnya kedua dasar ini akan memikirkan kata-kata serta berbagai tindakannya yang, berkat Allah SWT, terjadi dalam dirinya dan juga tahap-tahap yang ditetapkan oleh Allah SWT yang telah membawa dirinya ke tempat dia berada sekarang. Dari sana dia  bergerak maju – berkat kemurahan, rahmat, kemahakuasaan, serta kebaikan yang berlimpah dari Allah kepadanya – menuju ke tahap yang tak terpahami oleh intelegensi dan pemahaman. Dari sana pula, cinta dan kekaguman menggerakkan orang tersebut untuk bersyukur kepada Allah SWT, lantaran dia sepenuhnya menjadi peka pada nikmat Allah SWT dan pada cara dia bertindak yang mesti ditempuhnya di hadapan Allah.